Setiap kali konflik di suatu kawasan memanas, bayangan perang dunia hampir selalu ikut muncul. Ada kekhawatiran bahwa sejarah bisa sewaktu-waktu berbelok kembali ke arah tragedi yang pernah dialami umat manusia pada abad lalu.
Belakangan ini, ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat, pertanyaan lama itu kembali terdengar di berbagai ruang percakapan: apakah dunia sedang bergerak menuju Perang Dunia Ketiga?
Ketegangan antara Israel dan Iran, dengan dukungan kuat Amerika Serikat terhadap Israel, membuat banyak orang merasa bahwa konflik ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar, bahkan bisa berubah menjadi sebuah perang dunia. Serangan balasan, pengerahan militer, dan pernyataan keras para pemimpin negara sering memberi kesan bahwa dunia sedang berdiri di tepi jurang konflik global.
Kekhawatiran seperti ini tentunya tidak mengada-ada. Dalam geopolitik modern, hampir tidak ada konflik yang benar-benar berdiri sendiri. Perang lokal dapat dengan cepat menarik banyak pihak ke dalam pusarannya, melalui aliansi militer, dukungan logistik, kepentingan energi, maupun rivalitas kekuatan besar. Konflik yang awalnya tampak terbatas perlahan dapat melibatkan semakin banyak aktor.
Sejarah memberikan banyak contoh tentang hal itu. Perang besar jarang dimulai sebagai perang besar. Ia acap kali berawal dari konflik regional yang kemudian melebar karena jaringan aliansi dan kepentingan yang saling bertaut berkelindan.
Namun jika kita mencoba mengambil sedikit “jarak” dari hiruk-pikuk peristiwa, pertanyaannya justru bergeser. Bukan lagi sekadar apakah perang dunia mungkin terjadi, tetapi mengapa perang dunia justru relatif sulit terjadi.
Jawabannya terletak pada salah satu paradoks terbesar dalam sejarah militer modern, yakni: senjata nuklir.
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, umat mausia memasuki situasi yang benar-benar baru. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia menciptakan senjata yang memiliki kemampuan menghancurkan peradaban dalam skala yang hampir tak terbayangkan (unthinkable).
Ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945, dunia menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ledakan dari bom yang diberi nama Little Boy dan Enola Gay itu tidak hanya mengakhiri perang di Pasifik, tetapi juga mengubah cara manusia memandang perang itu sendiri.
Ironisnya, bom atom yang digunakan saat itu sebenarnya masih merupakan versi paling awal, bahkan bisa disebut “primitif”, dari teknologi nuklir. Jika dibandingkan dengan senjata nuklir mutakhir yang dimiliki negara-negara besar hari ini, daya hancurnya relatif kecil.
Namun bahkan dalam bentuknya yang paling sederhana itu, dampak bom atom sudah begitu mengerikan. Dalam hitungan detik, dua kota luluh lantak. Puluhan ribu orang meninggal seketika, dan puluhan ribu lainnya menyusul dalam bulan-bulan berikutnya akibat luka dan radiasi.
Peristiwa itu meninggalkan pelajaran, sekaligus trauma, yang sangat kuat bagi dunia: perang kini memiliki potensi untuk menghancurkan umat manusia itu sendiri.
Sejak peristiwa Hiroshima-Nagasaki itu, senjata nuklir tidak lagi sekadar instrumen militer. Ia juga menjadi alat politik, bahkan instrumen psikologis dalam hubungan internasional.
Dalam kajian strategi global, senjata nuklir memiliki kemampuan penangkalan atau deterrence.
Mengapa? Logikanya sebenarnya sederhana. Jika dua negara sama-sama memiliki senjata nuklir, maka setiap serangan nuklir hampir pasti akan dibalas dengan kehancuran yang sama besar.
Artinya, hampir tidak ada pihak yang benar-benar bisa menang dalam perang nuklir.
Konsep ini kemudian dikenal sebagai kehancuran bersama yang tak terhindarkan atau mutually assured destruction.
Di titik inilah letak paradoksnya. Senjata paling mematikan yang pernah diciptakan manusia justru kemudian menciptakan bentuk “stabilitas” yang unik. Karena sebuah perang nuklir menjadi terlalu berbahaya, terlalu mahal, bahkan terlalu berisiko untuk dimulai.
Contoh menarik yang disebut dalam diskusi strategi internasional adalah hubungan antara Amerika Serikat dan Korea Utara. Secara konvensional, kekuatan militer kedua negara itu tidak seimbang. Amerika Serikat memiliki kemampuan militer yang jauh lebih besar.
Namun sejak Korea Utara diyakini memiliki senjata nuklir, pilihan militer terhadap negara itu menjadi jauh lebih rumit dan berisiko. Risiko eskalasi nuklir membuat opsi serangan langsung ke Korut menjadi sangat mahal secara strategis.
Dalam bahasa studi strategi, ini sering disebut sebagai asymmetric deterrence. Negara yang relatif lemah dapat menahan negara yang jauh lebih kuat dengan kemampuan nuklir terbatas, karena potensi kerusakan yang ditimbulkannya tetap tidak dapat diterima.
Dengan kata lain, bahkan negara kecil sekalipun dapat menciptakan efek penangkal (deterrence) terhadap negara yang jauh lebih kuat.
Di sinilah kita melihat bagaimana senjata nuklir bekerja bukan terutama sebagai alat perang, tetapi sebagai alat pencegah perang.
Logika ini berangkat dari satu asumsi dalam teori hubungan internasional: negara dan para pemimpinnya pada akhirnya bertindak secara rasional. Mereka mungkin bersaing, berkonflik, bahkan saling mengancam. Namun Ketika sampai kepada pilihan senjata nuklir, mereka juga memahami “satu batas” yang tidak boleh dilampaui, batas yang dapat membawa kehancuran bersama.
Itulah sebabnya, selama lebih dari tujuh dekade sejak Perang Dunia II berakhir, tidak pernah terjadi perang langsung antara kekuatan nuklir besar.
Tentu saja konflik tidak pernah benar-benar lenyap dari muka bumi ini, yang berubah hanyalah bentuk dan skalanya.
Persaingan antarnegara kini sering muncul dalam bentuk lain, mulai dari perang dagang, sanksi ekonomi, rivalitas teknologi, hingga perang siber dan konflik regional yang melibatkan sekutu-sekutu lokal. Rivalitas tetap berlangsung, tetapi diusahakan agar tidak berkembang menjadi konfrontasi langsung antara kekuatan besar dengan senjata nuklr.
Juga, perang, dalam banyak hal, menjadi semakin tidak langsung.
Dalam berbagai konflik regional, negara-negara besar sering berada di belakang layar, memberikan dukungan politik, bantuan militer, atau tekanan diplomatik tanpa benar-benar berhadapan secara langsung di medan perang.
Dengan cara itu, meski konflik tetap terjadi, tetapi dunia berusaha menjaga agar konflik tersebut tidak berkembang menjadi perang global.
Ada satu kesadaran yang relatif luas di antara para pemimpin dunia: perang global di era nuklir akan menjadi bencana yang tidak dapat dikendalikan.
Sebagai ilustrasi, jika perang dunia pertama dan kedua mengubah peta politik dunia, maka perang nuklir berpotensi menghapus peta dunia itu sendiri.
Mungkin di situlah ironi terbesar zaman kita. Manusia telah menciptakan senjata yang begitu menakutkan, sehingga satu-satunya cara agar dunia tetap bertahan adalah memastikan bahwa senjata itu tidak pernah digunakan.
Selama logika penangkalan itu masih bekerja, dan para pemimpin dunia masih bertindak rasional, perang dunia ketiga, betapapun sering dikhawatirkan, tampaknya tidak mudah benar-benar meletus. []
Agus Trihartono
Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember. Rektor Universitas Islam Cordoba, Banyuwangi
SUMBER : https://beritajatim.com/mengapa-perang-dunia-ketiga-tidak-mudah-terjadi
No comments: