Surabaya (beritajatim.com) — Di balik jeruji besi Pengadilan Negeri Surabaya, tatapan itu bertemu. Di dalam sel tahanan tampak terdakwa Sofian. Di luar, Aminah, istrinya, berdiri bersama putri mereka yang baru berusia sembilan tahun. Di ruang yang terpisah oleh besi dingin, mereka saling menjangkausatu tangan dari balik pagar, satu tangan dari luar—namun tak sepenuhnya dapat bersentuhan.
Sofian, buruh bangunan yang kini berdiri sebagai terdakwa kasus dugaan pemerasan di kawasan Perak, Surabaya, baru saja mendengar tuntutan pidana 10 bulan penjara. Kisahnya bermula bukan dari kebiasaan mencari keuntungan tak sah, melainkan dari kehampaan dompet dan kebutuhan mendesak keluarga.
![]() |
| Gabung Shopee Affilate |
Aminah bercerita, menjadi tukang parkir bukanlah pilihan suaminya. Sehari-hari, Sofian adalah buruh bangunan. Namun, saat proyek yang dikerjakannya selesai, ia kehilangan mata pencaharian selama seminggu. Tuntutan nafkah tak menunggu: putra sulung mereka duduk di bangku SMP swasta di Surabaya Utara, sementara dua putra lainnya menempuh pendidikan di pondok pesantren di Madura dengan biaya Rp150.000 per anak setiap bulan.
Di tengah kecemasan itu, Sofian mencoba keberuntungan—mengatur parkir kendaraan di kawasan Perak. Namun, nasib berkata lain. Seorang pengendara enggan membayar, terjadilah perselisihan. Sofian dilaporkan melakukan pemerasan. Sejak itu, ia berada di balik jeruji.
“Sekarang yang kami bisa lakukan hanya menunggu kebebasan suami saya,” ujar Aminah sambil menangis. Ia datang bersama putri kecil mereka, yang menatap ayahnya dari balik besi tanpa benar-benar memahami mengapa ayahnya tidak bisa pulang.
Aminah saat ini menjadi tulang punggung keluarga. Sehari-hari, Aminah bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik bunga plastik dengan upah Rp50 per hari. “Saya tadi ke sini naik bemo, saya kasih uang Rp10 ribu buat suami saya buat pegangan. Karena saya memang benar-benar tidak punya uang lebih dari itu,” ujar Aminah.
Sidang masih berjalan. 10 bulan bukanlah waktu yang singkat—waktu yang terlewatkan untuk melihat anak tumbuh, untuk memastikan biaya sekolah terbayar, untuk sekadar duduk bersama di meja makan. Di luar sana, keluarga itu menunggu. Di dalam, seorang ayah berharap keadilan tidak melupakan bahwa ia hanya berusaha menafkahi. [uci/kun]
| SPREI KINTAKUN 120 X 200 T 25 CINDY SUMBER : https://beritajatim.com/tangis-istri-terdakwa-pemerasan-di-surabaya-datang-ke-pn-bawa-rp10-ribu-untuk-suami |

No comments: