Madinah (beritajatim.com) – Jemaah haji Indonesia diimbau untuk lebih cermat dalam mengelola kebersihan pakaian selama menjalani ibadah di Madinah. Perbedaan karakteristik fasilitas perhotelan antara Madinah dan Makkah menjadi alasan utama mengapa jemaah harus menyesuaikan kebiasaan mencuci mereka.
Kepala Seksi Akomodasi Daerah Kerja (Daker) Madinah Dr Zaenal Muttaqin, menjelaskan fasilitas di hotel-hotel Madinah berbeda signifikan dengan hotel di Makkah. Menurutnya salah satu perbedaan mencolok terletak pada ketersediaan sarana mencuci bagi jemaah.
“Kalai hotel di Makkah mayoritas menyediakan mesin cuci yang terletak di lantai paling atas (rooftop) untuk digunakan oleh jemaah. Sedangkan di Madinah ini, pihak hotel tidak menyediakan fasilitas mesin cuci maupun area pencucian khusus bagi jemaah,” kata Dr Zaenal Muttaqin kepada Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI di Arab Saudi.
Mengingat keterbatasan tersebut, ada beberapa imbauan bagi jemaah agar pakaian tetap terjaga kesuciannya untuk beribadah. Pertama, mencuci pakaian ‘ala kadarnya’ di kamar mandi hotel masing-masing. Namun Zaenal memberikan peringatan keras terkait tempat menjemur. Dilarang keras menjemur pakaian di jendela, menggantungnya di pipa sprinkler pemadam api, atau memaku tembok kamar.
“Pelanggaran terhadap aturan ini dapat berujung pada denda administratif dari manajemen hotel. Ini harus dipahami betul karena jumlah dendanya tidak main-main,” imbuhnya.
Oleh karena itu bagi yang mencuci di kamar hotel, maka tempat menjemur hanya berada di area dalam kamar dengan menggunakan jemuran lipat kecil atau gantungan baju. Akan tetapi ini pun harus dipastikan sudah berkoordinasi dengan rekan sekamar agar tidak mengganggu kenyamanan.
Imbauan selanjutnya ialah menunda mencuci hingga tiba di Makkah. Mengingat masa tinggal di Madinah hanya sekitar sembilan hari, jemaah disarankan untuk menunda pencucian pakaian besar jika merasa ragu akan ketersediaan tempat jemur yang layak.
“Jika ragu akan kesuciannya, pakaian bisa ditahan dulu. Nanti saat sudah di Makkah, jemaah bisa memanfaatkan mesin cuci yang disediakan hotel. Cuaca yang panas di sana akan membuat jemuran kering hanya dalam hitungan jam bahkan menit,” ujar Zaenal.
Imbauan selanjutnya ialah meminimalisir aktivitas luar ruangan bagi jemaah yang membawa pakaian terbatas. Disarankan untuk fokus pada aktivitas ibadah di Masjid Nabawi dan beristirahat di kamar. Dengan meminimalisir kegiatan di luar yang tidak mendesak, pakaian akan cenderung lebih awet bersih dan terjaga kesuciannya dari najis yang tidak terduga.
Sedangkan opsi terakhir ialah memanfaatkan jasa laundry berbayar jika jemaah tidak ingin repot. Di sekitar kawasan perhotelan Madinah banyak tersedia jasa laundry profesional. Namun, jemaah harus bersiap merogoh kocek lebih dalam karena layanan ini bersifat komersial dan memerlukan biaya tambahan di luar akomodasi haji. (ian/but)
No comments: