Tangis dan Harapan Wali Santri Diantara Reruntuhan Mushola Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

 

Surabaya (beritajatim.com) – Sudah 3 hari sejak Senin (29/9/2025) sampai Rabu (01/10/2025), Jalan Khr. Abbas II, Buduran, Sidoarjo dipenuhi ribuan manusia.

Ada yang berseragam merah dan orange memakai helm pengaman. Berseragam hijau loreng bersiaga membersihkan reruntuhan. Berseragam coklat dan abu-abu mengawasi situasi dan melakukan pengaturan jalan.

Mayoritas bersarung, memakai kopiah bagi pria. Berkerudung sembari membawa tisu dan secarik kertas berisi catatan bagi perempuan.

Ratusan orang dengan pakaian yang berbeda itu memiliki satu benih harapan yang sama. Yakni, santri Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo yang masih tertimbun reruntuhan mushola bisa keluar dengan selamat.

Pujian dan doa terus dipanjatkan kepada sang Esa. Mulut dan mata para wali santri terus bergerak. Mulai dari langit diterangi matahari hingga berganti menjadi bulan. Sesekali para wali yang duduk di posko tenda warna orange bertuliskan BPBD menangis histeris menyebut nama para santri yang juga belum ditemukan.

Ditengah krisis yang berlangsung. Hadir sejumlah pejabat negara. Mulai Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak.

Ketua DPP PDI Perjuangan bidang penanggulangan bencana Tri Rismaharini. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Hingga Menteri Agama Nasarudin Umar.

Kedatangan para pejabat negara ke lokasi membuat benih harapan para wali santri terjaga. Para elit yang hadir terus menguatkan hati para wali santri, pengurus pondok hingga petugas evakuasi yang terus bekerja.

Sesekali para pejabat menenangkan para wali santri yang histeris. Juga memberikan penjelasan terkait kerja petugas evakuasi yang dirasa lambat oleh para keluarga korban.

Kebimbangan, duka, isak tangis, dan desakan wali santri kepada para pejabat publik menjadi satu bagian dengan benih harapan yang terus diusahakan tumbuh di jiwa masing-masing yang hadir.

Benih harapan yang tumbuh di hati para wali santri, pejabat, dan publik terpikul di pundak para petugas evakuasi gabungan. Sebagai ujung tombak dalam pencarian dan penyelamatan para korban, para petugas yang bekerja terus berburu dengan waktu. Selain dituntut agar cepat menemukan korban di reruntuhan material bangunan mushola ponpes Al Khoziny Sidoarjo, mereka juga harus melayani setiap pertanyaan dari wartawan dan wali santri.

Untuk mendukung dan membantu tugas tim evakuasi, aelama tiga hari pencarian, petugas mendirikan tiga tenda warna orange bertuliskan BPBD di halaman asrama putri santri ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo.

Tiga tenda berukuran 6×12 meter didirikan 70 meter dari pusat utama tragedi ini. Tiga tenda ini ditujukan sebagai posko tempat wali santri, awak media dan petugas informasi evakuasi untuk menunggu kabar dan informasi dari tim pencari di lokasi ambruknya mushola.

Sampai hari ketiga, tim evakuasi berhasil membawa keluar 108 korban yang sempat terjebak reruntuhan. Lima orang dinyatakan meninggal dunia. Dari berbagai sumber di lokasi, diduga masih ada puluhan tubuh korban yang terjebak. Tidak ada yang mengetahui bagaimana kondisi korban yang terjebak. Namun, bau tidak sedap sudah mulai tercium di sekitar area reruntuhan.

Keajaiban Kecil bernama Haikal dan Mayat Tanpa Identitas yang Bersujud

Golden time (waktu emas) dalam sebuah peristiwa terjadi selama 72 jam awal. Pada waktu emas itu banyak petunjuk, bukti, dan keterangan yang bisa diperoleh oleh petugas yang bekerja. Bukan hanya itu. Pada momen golden time, peluang untuk menyelamatkan korban masih terbuka lebar.

Dihari ketiga, tim evakuasi yang bekerja berhasil membuka 4 jalur untuk menjangkau para korban. Tiga kertas bergambar runtuhan mushola ponpes Al Khoziny Sidoarjo dari atas terpasang.

Di dalam gambar tersebut tertulis A1 sampai A4. Tulisan itu merujuk pada empat jalur evakuasi yang berhasil dibuat oleh para petugas dengan cara memberikan penopang pada material yang jatuh.

“Jenis runtuhan itu ada macam-macam. Kalau yang terjadi di Pondok Al Khoziny Sidoarjo itu jenis pola pancake atau material yang runtuh saling tumpang tindih. Sehingga tidak bisa menggunakan alat berat untuk memindahkan material. Karena dikhawatirkan terjadi runtuhan susulan yang berpotensi membahayakan para korban yang masih terjebak,” kata salah satu petugas evakuasi.

Walaupun memiliki kelemahan dalam soal kecepatan memindahkan material karena tidak menggunakan alat berat, namun cara yang diterapkan petugas evakuasi terbukti efektif menyelamatkan korban. Di hari ketiga, delapan korban ditarik keluar oleh petugas. Lima dinyatakan selamat. Sementara sisanya meninggal dunia.

Dari tiga jenazah yang dievakuasi, satu orang belum teridentifikasi identitasnya. Ia ditemukan dalam kondisi kulit yang sudah menghitam karena pembusukan alami. Petugas yang melakukan evakuasi sempat kaget karena jenazah laki-laki itu meninggal dalam posisi sujud ke arah kiblat.

Penemuan jenazah tanpa identitas itu sempat membuat wali santri yang menunggu histeris. Mereka menangis sambil menyebut nama anak-anak yang belum ditemukan.

Para wali murid terus meronta. Teriakan yang dikeluarkan lemah. Mata sejumlah wali santri menatap kosong petugas. Mereka seperti sudah kehilangan harapan akan bertemu anaknya dalam kondisi selamat.

“Kita dari pihak keluarga sudah pasrah, sudah ikhlas, tiga hari menunggu. Sedangkan tadi di tempat kejadian itu sudah bau seperti itu, ya Allah bau ga enak sudahan,” rengek Tutik, salah satu wali dari santri yang belum ditemukan bernama Ahmad Suaepi (15).

Menjelang akhir waktu golden time tragedi ambruknya bangunan mushola ponpes Al Khoziny Sidoarjo, bibit harapan kembali muncul. Haikal (13) salah satu korban yang viral di media sosial karena momen komunikasi dengan petugas evakuasi diunggah di media sosial berhasil dikeluarkan dalam kondisi selamat.

“Korban HK (Haikal) dan jenazah yang menghitam bersujud itu ditemukan petugas di reruntuhan sektor A1. Posisi keduanya saling berdekatan (saat ditemukan petugas),” kata Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas RI, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo.

Petugas yang melakukan evakuasi sempat menitikan air mata haru saat Haikal ditandu keluar dengan tubuh yang terbalut kain putih. Keluarnya Haikal hidup-hidup setelah tiga hari terjebak hingga terjepit material bangunan kembali menumbuhkan benih harapan di hati masyarakat. Khususnya para petugas evakuasi dan wali santri yang ada di posko. Suara tangisan berubah menjadi bacaan thoyyibah, dzikir, dan tadahan tangan memohon kepada sang Khalik.

Haikal lantas mendapatkan pertolongan pertama dari petugas medis. Ia diberi asupan oksigen sejenak. Setelah selesai diberi asupan oksigen, Haikal langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) RSUD R.T. Notopuro.

Di rumah sakit tersebut, Haikal menjalani pemeriksaan. Haikal menjalani rontgen (foto kerangka) dari ujung kepala hingga jari kaki karena dugaan mayoritas orang, ia akan mengalami fraktur dan keretakan tulang karena tertimpa material gedung hingga tiga hari.

Namun, keajaiban ditunjukan sang Esa lewat hasil pemeriksaan tim dokter RSUD R.T.Nopuro. Bocah berusia 13 tahun itu tidak mengalami luka yang fatal. Ia hanya mengalami dehidrasi karena nutrisi yang tidak terpenuhi setelah terjebak selama hampir 48 jam.

“Mulai tengkorak, panggul, kaki, jari juga semuanya normal, nggak ada masalah. Tidak ada fraktur. Tidak ada yang retak juga tulangnya,” jelas Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R.T. Notopuro, dr. Atok.

Haikal hanya mengalami ruam pada kulit akibat tergencet reruntuhan bangunan mushola ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Kini yang dijadikan simbol harapan dan keajaiban oleh netizen itu masih menjalani observasi dan pemulihan nutrisi di RSUD R.T. Notopuro.

Petugas Evakuasi Terus Berupaya hingga Pencarian Hari Keempat

Kini, pencarian tubuh para santri yang masih belum ditemukan dan terjebak reruntuhan material masjid Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo sudah memasuki hari keempat. Beredar informasi, petugs evakuasi akan menerapkan cara lain dengan menggunakan alat berat yang sudah tersedia di lokasi. Padahal, dalam tiga hari pencarian petugas evakuasi tidak menggunakan alat berat dengan harapan tidak memperburuk kondisi korban hidup yang terjebak.

Apakah informasi yang beredar tersebut benar? Apakah penggunaan alat berat untuk menemukan dan mengevakuasi korban pada hari keempat itu nantinya mematikan benih harapan wali santri untuk kembali berkumpul bersama putranya? Atau malah membuka harapan dan keajaiban-keajaiban baru dari balik reruntuhan?

Setidaknya petugas evakuasi yang sudah bekerja lebih dari 87 jam. Wali santri yang terus memohon kepada sang Esa agar korban yang masih tertimbun reruntuhan ditemukan dalam kondisi selamat. Warga sekitar yang gotong royong memberikan makan dan minum pada petugas dan wali santri.

Netizen yang terus memberikan dukungan dan doa keselamatan kepada petugas dan korban yang belum ditemukan, menjadi pengingat agar semua pihak terus berupaya di peran yang berbeda. Bertanggung Jawab dengan apa yang sudah dikerjakan dan dipilih tanpa menyalahkan tuhan dengan kalimat semua sudah menjadi kehendak dan takdir. (ang/ted)








SUMBERhttps://beritajatim.com/tangis-harapan-wali-santri-diantara-reruntuhan-mushola-ponpes-al-khoziny-sidoarjo

Tangis dan Harapan Wali Santri Diantara Reruntuhan Mushola Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Tangis dan Harapan Wali Santri Diantara Reruntuhan Mushola Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Reviewed by wongpasar grosir on October 02, 2025 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.