75 Jurnalis Sekolah El-Manzil MAN Sidoarjo Belajar Menulis Berita bareng Beritajatim.com

 

Ringkasan Berita:

- Sebanyak 75 jurnalis sekolah El-Manzil MAN Sidoarjo mengikuti Workshop Peningkatan Kompetensi Jurnalistik dan Manajemen Media Jurnalistik El-Manzil.

- Kegiatan berlangsung di Auditorium MAN Sidoarjo, Jalan Stadion No. 2, Sidoarjo, Rabu (30/9/2026).

- Peserta belajar mengenali berita, membedakan fakta dan opini, memahami nilai berita, 5W+1H, serta berbagai jenis berita.

- Materi juga membahas verifikasi informasi dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam kerja jurnalistik.

Sidoarjo (beritajatim.com) – Sebanyak 75 jurnalis sekolah El-Manzil Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sidoarjo mengikuti Workshop Peningkatan Kompetensi Jurnalistik dan Manajemen Media Jurnalistik El-Manzil di Auditorium MAN Sidoarjo, Jalan Stadion No. 2, Sidoarjo, Rabu (30/9/2026).

Para jurnalis sekolah tersebut mendapatkan materi dasar penulisan berita, mulai dari memahami pengertian berita, membedakan fakta dan opini, mengenali nilai berita, berpikir seperti jurnalis, menggunakan 5W+1H, memahami jenis-jenis berita, melakukan verifikasi, hingga memanfaatkan artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam kerja jurnalistik.

Gabung Shopee Affilate

bimbing El-Manzil, Nuriya, mengatakan pengetahuan jurnalistik para anggota El-Manzil masih banyak yang berada pada tahap dasar. Karena itu, workshop tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mendapatkan gambaran yang lebih dekat mengenai praktik jurnalistik dan kerja media profesional.

“Pengetahuan anak-anak di El-Manzil tentang jurnalistik memang masih banyak yang dasar. Karena itu, kami ingin menunjukkan kepada mereka seperti apa dunia jurnalistik dan bagaimana media profesional bekerja,” ujar Nuriya.

Redaktur beritajatim.com, Ahmad Baiquni, yang menjadi narasumber dalam workshop mengatakan, kemampuan menulis berita tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang jurnalis dalam mengamati dan mempertanyakan sebuah peristiwa.

“Jurnalistik bukan sekadar kemampuan menulis. Sebelum menulis, seorang jurnalis harus memiliki rasa ingin tahu, mampu mengamati, bertanya, mencari fakta, memahami konteks, dan memastikan informasi yang diperoleh benar,” kata Baiquni.

Menurut Baiquni, rasa ingin tahu menjadi salah satu modal penting bagi seorang jurnalis. Karena itu, jurnalis sekolah perlu membiasakan diri melihat sebuah peristiwa secara lebih mendalam.

Dalam materi yang disampaikan, peserta diajak untuk tidak berhenti pada pertanyaan mengenai apa yang terjadi. Mereka juga perlu mencari tahu mengapa sebuah peristiwa terjadi, siapa yang terdampak, bagaimana dampaknya, serta bagaimana peristiwa tersebut berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

“Harus mulai membiasakan diri melihat sesuatu lebih dalam. Jangan hanya bertanya apa yang terjadi. Tanyakan juga mengapa itu terjadi, siapa yang terdampak, apa akibatnya, dan bagaimana peristiwa tersebut berkaitan dengan kehidupan orang lain,” ujar Baiquni.

Peserta juga diperkenalkan pada pengertian berita sebagai informasi mengenai suatu peristiwa atau keadaan yang memiliki nilai bagi khalayak dan disampaikan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pemahaman mengenai fakta menjadi bagian penting dalam proses belajar menulis berita. Peserta diajak membedakan fakta dengan opini agar informasi yang ditulis tidak tercampur dengan penilaian pribadi penulis.

Fakta merupakan informasi yang dapat dibuktikan melalui data, waktu, tempat, dokumentasi, atau sumber yang jelas. Sementara opini merupakan pendapat, penilaian, atau interpretasi seseorang.

“Jurnalis boleh menulis tentang pendapat seseorang, tetapi jangan mengubah pendapat itu menjadi fakta. Pembaca harus bisa membedakan mana fakta yang terjadi dan mana pendapat orang tentang fakta tersebut,” jelas Baiquni.

Materi berikutnya membahas nilai berita. Para jurnalis sekolah diperkenalkan dengan sejumlah unsur yang membuat sebuah peristiwa memiliki nilai bagi pembaca, antara lain kebaruan, dampak, kedekatan, tokoh, konflik, keunikan, dan human interest.

Baiquni menjelaskan, kemampuan mengenali nilai berita membantu jurnalis menentukan peristiwa mana yang memiliki kepentingan bagi khalayak.

“Setiap hari ada begitu banyak peristiwa di sekitar kita, tetapi tidak semuanya memiliki nilai berita yang sama. Tugas jurnalis adalah menemukan peristiwa yang penting bagi pembaca dan menjelaskan mengapa peristiwa itu penting,” katanya.

Para jurnalis sekolah kemudian diajak memahami cara berpikir seperti jurnalis. Mereka didorong untuk mengamati lingkungan sekitar, bertanya lebih dalam, melihat dampak yang lebih luas, mencari berbagai sudut pandang, memahami konteks, serta tetap kritis dan terbuka terhadap informasi baru.

Dalam proses menulis, peserta juga belajar menggunakan unsur 5W+1H, yakni what, who, where, when, why, dan how. Keenam unsur tersebut menjadi dasar untuk memastikan informasi penting dalam sebuah peristiwa tidak terlewatkan dalam berita.

“5W+1H itu bukan sekadar rumus yang harus dihafalkan. Ini adalah cara untuk memastikan kita tidak melewatkan informasi penting ketika meliput dan menulis sebuah peristiwa,” ujar Baiquni.

Peserta selanjutnya dikenalkan dengan sejumlah jenis berita, seperti straight news, depth news, feature, dan investigative news. Masing-masing memiliki karakter dan pendekatan berbeda dalam mengolah sebuah peristiwa.

Selain menulis, workshop memberikan perhatian pada proses verifikasi. Para jurnalis sekolah diajak memahami pentingnya mengecek dan membandingkan sumber, memeriksa data dan dokumen, menggunakan metode cek fakta, serta melakukan konfirmasi langsung kepada narasumber.

“Kecepatan memang penting dalam jurnalistik, tetapi akurasi jauh lebih penting. Jangan sampai karena ingin menjadi yang pertama memberitakan, kita justru menjadi yang pertama menyebarkan informasi yang salah,” tegas Baiquni.

Menurut Baiquni, verifikasi menjadi bagian penting dalam kerja jurnalistik karena informasi yang belum diperiksa dapat menimbulkan kesalahan dalam pemberitaan.

Materi workshop kemudian membahas perkembangan artificial intelligence atau AI dalam kerja jurnalistik. AI diperkenalkan sebagai alat yang dapat membantu sejumlah pekerjaan, seperti riset awal, merangkum dokumen, mencari ide dan angle, membuat transkrip wawancara, mengecek tata bahasa dan struktur tulisan, serta membuat visual pendukung.

Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan kontrol manusia. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan pengalaman langsung di lapangan, memastikan kebenaran fakta secara penuh, memahami konteks lokal dan nuansa, membangun empati dan perspektif manusia, serta mengambil keputusan etis dalam situasi rumit.

“AI bisa membantu jurnalis bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak bisa menggantikan jurnalis di lapangan. Kita tetap membutuhkan manusia untuk melihat konteks, melakukan wawancara, memeriksa fakta, memahami situasi, dan mengambil keputusan jurnalistik,” kata Baiquni.

Karena itu, para jurnalis sekolah diajak memahami AI bukan sebagai pengganti proses jurnalistik, melainkan sebagai alat bantu yang penggunaannya tetap harus disertai pemeriksaan dan verifikasi.

Bagi 75 jurnalis sekolah El-Manzil MAN Sidoarjo, workshop tersebut menjadi ruang untuk mengenal proses jurnalistik secara lebih utuh. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menulis, tetapi juga bagaimana menemukan peristiwa, menentukan nilai berita, menggali informasi, memeriksa fakta, memilih sudut pandang, dan menyajikan informasi kepada pembaca.

Baiquni mengatakan, kemampuan tersebut perlu dibangun sejak siswa mulai mengenal jurnalistik karena kegiatan jurnalistik pada dasarnya mengajarkan cara melihat lingkungan secara lebih kritis.

“Jurnalistik dimulai dari bertanya. Kalau kalian punya rasa ingin tahu yang kuat, mau memeriksa fakta, mau mendengarkan banyak perspektif, dan tidak malas mencari jawaban, kalian sudah memiliki modal penting untuk menjadi jurnalis,” ujarnya.

Workshop Peningkatan Kompetensi Jurnalistik dan Manajemen Media Jurnalistik El-Manzil menjadi bagian dari proses peningkatan kompetensi para jurnalis sekolah MAN Sidoarjo.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan bekal untuk menjalankan aktivitas jurnalistik dengan tetap mengutamakan fakta, verifikasi, berbagai perspektif, pemanfaatan teknologi, serta tanggung jawab dalam menghasilkan informasi. [isa/beq]


BEDCOVER MY LOVE 160 X 200 SPREI FLAT KEISHA


SUMBER : https://beritajatim.com/75-jurnalis-sekolah-el-manzil-man-sidoarjo-belajar-menulis-berita-bareng-beritajatim-com


BEDCOVER MY LOVE 180X 200 SPREI FLAT MAUREN

Baca Juga : 

75 Jurnalis Sekolah El-Manzil MAN Sidoarjo Belajar Menulis Berita bareng Beritajatim.com 75 Jurnalis Sekolah El-Manzil MAN Sidoarjo Belajar Menulis Berita bareng Beritajatim.com Reviewed by wongpasar grosir on October 07, 2026 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.