Yogyakarta (beritajatim.com) — Semangkuk soto baik ayam atau sapi hangat selalu memiliki cara sendiri untuk langsung menunjukkan bahwa saat itu Anda sedang berada di Yogyakarta dan menikmati kuliner khas.
Salah satu ikon soto legendaris di Yogyakarta yakni Kawasan Kadipiro Jalan Wates Yogyakarta. Jika berjalan di sepanjang jalan tersebut tepatnya Kawasan Kadipiro tercium aroma segar soto dengan ciri khas langsung menunjukkan bahwa kuliner ini asli buatan “Wong Yojo”. Jadi memang sepanjang jalur ini, nama Kadipiro sudah lama dikenal sebagai salah satu ikon kuliner soto baik soto ayam maupun soto sapi.
Salah satu tempat yang bisa disambangi adalah Warung Soto Kadipiro II di Jalan Wates No. 50 KM 2, Sonosewu, Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
![]() |
| Gabung Shopee Affilate |
Begitu memasuki warung makan ini, suasana khas rumah makan soto terasa cukup kuat. Ciri khas warung makan jadul yang memajang satu persatu foto aktris, aktor dan aneka tokoh penting lain Bersama pemilik dan karyawan tanda orang orang penting tersebut pernah datang ke warung itu untuk mencicipi kuliner ini.
Pengunjung yang rata rata bukan orang Yogyakarta asli terlihat dari pelat nomor mobil yang dikendarai datang silih berganti utamanya pada jam sarapan hingga menuju sore. Konsepnya sederhana, tetapi justru di situlah daya tariknya. Soto disajikan sebagai makanan sehari-hari yang akrab bagi wisatawan yang tengah menjelajahi kuliner Yogyakarta.
Menu utamanya tentu saja soto. Soto sapi menjadi salah satu pilihan yang banyak dicari. Kuahnya cenderung ringan, bening dengan karakter gurih dan menyegarkan. Bagi pencinta soto dengan kuah bening, sajian seperti ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari soto dengan kuah pekat dan bumbu yang dominan.
Salah satu pengunjung asal Sragen, Dimi Hartanto kepada beritajatim.com menuturkan Soto Kadipiro merupakan kuliner langganan dirinya bersama keluarga atau relasi Ketika tengah berkunjung ke Yogyakarta. Ia datang bersama relasi mengaku bahwa menikmati semangkok Soto Sapi Kadipiro bagi dirinya yang pernah merantau di Yogyakarta selama 10 tahun membuatnya sedikit mengenang masalalu dan bernostalgia.
“Rasanya itu dari jaman saya susah masih kontrak di rumah gedeg (kayu) di Kawasan Jalan Sedayu tidak ada rasa yang berubah. Sejak dulu sampai sekarang rasanya otentik begini saja ini yang bikin saya selalu kangen makan kesini setiap kali saya ada agenda bisnis di Jogja,” ujar pengusaha mebel ini.
Saat pegawai menghidangkan soto baik ayam maupun sapi di meja juga sekaligus dihidangkan aneka lauk pelengkap seperti perkedel, ayam goreng, tahu dan tempe bacem, babat iso, aneka sate tak lupa sambal, jeruk nipis, hingga kecap manis. Konon kecap manis yang dipakai juga bukan kecap sembarangan alias kecap khusus yang berbeda dari warung soto lain.
Tradisi menikmati soto di tempat seperti ini memang tidak sekadar soal kuah dan isian. Ada kebiasaan memilih lauk tambahan, mencampurkan sambal sesuai tingkat kepedasan yang diinginkan, kemudian menyantapnya perlahan bersama nasi.
Bagi sebagian orang, justru ritual sederhana itulah yang membuat kuliner tradisional tetap menarik.
Nama Soto Kadipiro memiliki sejarah panjang dalam perkembangan kuliner Yogyakarta. Dalam website resmi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat, Soto Kadipiro merupakan tempat yang menjadi cikal bakal warung soto di Yogyakarta. Soto Kadipiro didirikan Karto Wijoyo pada 1921.
Ciri khas yang selama ini dilekatkan pada Soto Kadipiro adalah kuah kaldu yang bening dengan semburat warna kuning namun tidak pekat sama sekali. Kunyit menjadi salah satu bumbu yang memberikan warna sekaligus karakter pada kuah. Soto ayam biasanya dilengkapi suwiran ayam, tauge, kubis, seledri, perkedel dan bawang goreng. Sementara soto sapi berisi aneka daging, babat iso, kecambah, irisan keripik kentang dan sebagainya.
Karakter kuah yang gurih tidak terlalu asin dan tidak pula terlalu manis membuat soto ini layak disantap kapanpun mulai sarapan, makan siang hingga sore hari. Sayang jika sudah sore hari kisaran pukul 17.00 WIB Soto Kadipiro sudah tutup.
Untuk urusan Harga, sesuai dengan kuliner Yogyakarta, Harga Soto Kadipiro sangat bersahabat di kantong para wisatawan yang berkunjung. Untuk menikmati semangkok soto baik ayam ataupun sapi berdua lengkap dengan aneka lauk pendamping dan minuman, Anda cukup merogoh kocek tak lebih dari Rp100 ribu. Cukup ramah bagi kantong wisatawan bukan? Namun jika berkunjung ke Soto Kadipiro Anda harus siap siap membawa uang tunai karena Warung Soto Kadipiro 2 ini nampaknya belum familiar dengan pembayaran debit dan QRIS.
Ada satu hal yang menarik dari kuliner tradisional semacam Soto Kadipiro. Popularitasnya tidak semata-mata dibangun melalui promosi modern. Nama tersebut bertahan karena diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan terus hadir dalam keseharian masyarakat.
Menikmati Soto Kadipiro II bisa menjadi pengalaman sederhana di tengah perjalanan menyusuri kawasan Yogyakarta dan Bantul. Lokasinya berada di jalur Jalan Wates sehingga relatif mudah dijangkau.
Meski jika hari biasa tempat ini tergolong tidak memiliki banyak pengunjung namun tempat ini dapat ramai sekali saat musim liburan atau Lebaran.
Daya tarik Soto Kadipiro II bukan hanya terletak pada semangkuk soto. Ada cerita tentang Jalan Wates, tradisi makan sederhana, resep yang diwariskan, serta kebiasaan masyarakat Yogyakarta menikmati makanan hangat tanpa banyak kemewahan.
Di tengah semakin banyaknya pilihan kuliner modern, seporsi soto dengan kuah bening tetap memiliki ruang tersendiri. Hangat, sederhana, mudah dijangkau dan dekat dengan keseharian. Barangkali justru karena kesederhanaan itulah kuliner seperti Soto Kadipiro terus dicari.
Bagi pemburu kuliner tradisional Yogyakarta, mampir ke Soto Kadipiro II bisa menjadi salah satu cara menikmati sisi lain Jogja, bukan hanya tentang destinasi wisata dan makanan kekinian, tetapi juga tentang rasa yang tumbuh dari tradisi dan bertahan dalam ingatan banyak orang. [aje]
| SELIMUT JOVANKA POLOS 160 X 200 ALMON SUMBER : https://beritajatim.com/tak-sekadar-kuliner-menikmati-cerita-sederhana-cikal-bakal-soto-di-yogyakarta-di-soto-kadipiro
|

No comments: