Surabaya (beritajatim.com) – Kontroversi Buku ‘Islam Ala Prabowo’ beredar luas di media sosial dan terus menjadi perbincangan publik.
Ketua Umum Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN), Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim yang biasa disapa Kiai Asep, penulis Epilog di buku tersebut mengaku terkejut.
Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) ini sudah mengusulkan kepada tim pembuat buku agar judulnya diubah karena sensitif.
Pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet ini menjelaskan, sejak semula dirinya sudah mengingatkan panitia, agar judul buku diubah.
“Saat panitia buku tersebut minta tulisan kepada saya, saya telah mengingatkan agar judulnya diubah karena sangat sensitif. Saya sudah menyarankan agar buku judul buku itu diubah, menjadi ‘Kepemimpinan Prabowo dalam Kacamata Islam’. Bagaimana kepemimpinan Prabowo dalam kacamata Islam? Itu lebih bagus judulnya dibandingkan Islam Ala Prabowo,” tegasnya kepada beritajatim.com, Rabu (9/9/2026) malam.
Karena menurut kacamata Islam, lanjut dia, tasarruful imam ala ra’iyah manutun bil maslahah. Kiprah seorang pemimpin untuk rakyatnya harus diorientasikan untuk kepentingan rakyat. “Dan Pak Prabowo dalam pidato-pidatonya mementingkan kepentingan rakyat dan sudah melakukan pemberantasan korupsi,” katanya.
Meski begitu, Kiai Asep menilai, tulisannya tersebut tidak untuk memuji atau mengkultuskan Presiden Prabowo Subianto. Justru Kiai Asep ingin menyampaikan pesan mengenai kepemimpinan melalui kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dirinya menginginkan Prabowo bisa mengambil pelajaran dari kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, terutama dalam hal pemberantasan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).
“Jadi, semangat saya, semangat untuk berdakwah. Kita semua tahu bahwa kebijakan Presiden sangat menentukan nasib bangsa Indonesia,” tegas Kiai Asep.
![]() |
| Gabung Shopee Affilate |
Dia memaparkan, kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu contoh yang layak dijadikan inspirasi. Kiai Asep berharap, Presiden Prabowo dapat meneladani ketegasan Umar dalam membangun pemerintahan yang bersih, jujur dan adil.
“Cerita Khalifah Umar bin Abdul Aziz sering saya sampaikan saat berceramah di hadapan pejabat, baik kepala daerah maupun menteri. Saya harap dapat menginspirasi, khususnya dalam ketegasannya memberantas korupsi dan nepotisme,” tegas Kiai Asep.
“Saya kan menulis tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz ini seorang khalifah yang berhasil membuat masyarakatnya maju, adil, dan makmur. Memimpin hanya dalam 2,5 tahun. Apa kemakmurannya? Semua orang punya pekerjaan, semua utang dibayar oleh negara, tidak punya utang rakyatnya, anak mudanya yang tidak bisa kawin dan dikawinkan oleh pemerintah. Kemudian semua orang punya rumah, dan tidak ada pajak. Yang ada hanya zakat. Zakat itu 2,5%. Tapi ingat, urudh tijarah. Urudh tijarah itu artinya aset. 2,5% tapi urudh tijarah. Jadi misalnya Gudang Garam, asetnya Rp100 triliun, ya zakatnya 2,5 triliun setiap tahun sekali,” jelasnya.
Menurut Kiai Asep, hal itu bisa dilakukan dan bisa membuat sejahtera. “Kunci utamanya dalam membuat sejahtera itu tegas dalam memberantas korupsi, dalam menegakkan keadilan, dalam menghilangkan nepotisme dan kolusi. Itu kunci utamanya. Dan situ kemudian bisa mewujudkan kesejahteraan dan penegakan keadilan. Ya, walaupun kemudian usia beliau tidak lama dan meninggal dalam usia yang sangat muda, 36 tahun,” tukasnya.
“Bukan ilusi tapi sebuah realitas, realitas sejarah. Presiden Prabowo bisa melakukan itu. Dan saya berharap bahwa apa yang terjadi pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu dibaca oleh Pak Prabowo dan Pak Prabowo menjadikannya sebagai referensi” imbuhnya.
Terkait ramainya beberapa ulama yang protes karena penulis buku ‘Islam Ala Prabowo’ tidak izin untuk mengkutip tulisan dan dimuat di buku, Kiai Asep tidak ingin berkomentar panjang lebar.
“Aduh, saya enggak tahulah, saya khawatirnya lempar batu sembunyi tangan. Kalau saya kan terang-terangan saja, blak-blakan. Sebagai penulis epilog di buku tersebut, bagian penutupan. Apa itu bukan dakwah? Kan dakwah. Untuk bagaimana Pak Prabowo menjadi seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ibroh (proses mengambil pelajaran atau hikmah dari suatu peristiwa masa lalu, pengalaman orang lain, atau kejadian alam yang memicu kesadaran hati dan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik),” paparnya.
“Itu kan dakwah. Kalau seandainya bisa seperti itu kan betapa hebatnya. Ada persamaan, mohon maaf, keberanian. Tapi di sinilah yang harus dibuktikan tentang keberaniannya Pak Prabowo. Umar bin Abdul Aziz berani, masih muda orangnya. Prabowo kan berani. Itu kesamaannya kan di situ. Kalau yang lain kan mungkin masih pikir-pikir, tapi Pak Prabowo kan berani. Ya sudahlah kita mengatakan apa adanya, gitu,” pungkasnya. (tok/ted)
| SELIMUT BONITA PAULINA 160 X 200 LEFIA SUMBER : https://beritajatim.com/kontroversi-buku-islam-ala-prabowo-kiai-asep-sudah-ingatkan-judul-buku-diubah |
| SPREI FATA 120 X 200 TINGGI 25 YOLANDA |
Baca Juga :

No comments: