Magetan (beritajatim.com) – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Diana A.V. Sasa, mengingatkan seluruh satuan pendidikan di Jawa Timur agar pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 menjadi ruang pembelajaran yang aman, edukatif, dan bebas dari segala bentuk perundungan maupun perpeloncoan. Menurutnya, pengalaman pertama siswa di lingkungan sekolah akan menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter dan semangat belajar mereka.
Menjelang dimulainya MPLS, Diana menilai sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung sesuai tujuan pendidikan. Ia menegaskan, MPLS bukan sekadar agenda penyambutan peserta didik baru, tetapi menjadi momentum awal bagi siswa mengenal budaya sekolah, membangun rasa percaya diri, serta menumbuhkan nilai-nilai saling menghormati.
“MPLS harus menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan bagi peserta didik. Jangan sampai ada praktik perundungan, perpeloncoan, ataupun kegiatan yang merendahkan martabat siswa. Sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh anak,” ujar Diana Sasa.
Ia menekankan, seluruh unsur di lingkungan sekolah memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan suasana belajar yang positif. Kepala sekolah, guru, panitia penyelenggara hingga siswa senior diharapkan menjadi teladan dalam membangun budaya saling menghargai sejak hari pertama peserta didik memasuki lingkungan sekolah.
Menurut Diana, pembentukan karakter tidak dapat dipisahkan dari lingkungan belajar yang sehat. Ketika peserta didik merasa diterima dan dihargai, mereka akan lebih mudah beradaptasi, berani mengembangkan potensi diri, serta mampu mengikuti proses pembelajaran secara optimal.
Selain peran sekolah, Diana juga mengajak para orang tua untuk aktif mengawal pelaksanaan MPLS melalui komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang bebas dari kekerasan dan mampu mendukung tumbuh kembang anak secara maksimal.
“Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di ruang kelas, tetapi harus diwujudkan melalui teladan dan lingkungan sekolah yang saling menghargai. Ketika anak merasa aman, mereka akan lebih percaya diri untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-citanya,” katanya.
Menurutnya, tantangan dunia pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kualitas akademik, tetapi juga memastikan seluruh peserta didik memperoleh hak untuk belajar dalam suasana yang aman dan bermartabat. Karena itu, praktik-praktik yang berpotensi menimbulkan trauma fisik maupun psikologis harus dihilangkan dari lingkungan sekolah.
Diana juga mengingatkan bahwa kualitas pendidikan menjadi salah satu penentu kemajuan bangsa. Ia mengutip pandangan Proklamator Republik Indonesia, Soekarno, yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun masa depan Indonesia.
“Bung Karno pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah cikal bakal keberhasilan sebuah bangsa. Karena itu, setiap anak harus memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” tuturnya.
Ia menilai semangat tersebut perlu diwujudkan melalui komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan di sektor pendidikan. Bagi Diana, MPLS merupakan kesempatan strategis untuk menanamkan nilai disiplin, gotong royong, toleransi, kepedulian, serta penghormatan terhadap sesama sejak awal peserta didik mengawali perjalanan pendidikan di sekolah barunya.
Pelaksanaan MPLS yang berjalan sesuai prinsip ramah anak juga diharapkan mampu mempercepat proses adaptasi siswa baru sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan lebih nyaman. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada perkembangan akademik, tetapi juga kesehatan mental dan pembentukan karakter peserta didik dalam jangka panjang.
Diana berharap seluruh sekolah di Jawa Timur menjadikan MPLS sebagai momentum memperkuat budaya pendidikan yang inklusif, humanis, dan berorientasi pada pembinaan karakter. Dengan demikian, kegiatan pengenalan lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi benar-benar menjadi langkah awal dalam mencetak generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak mulia, serta siap menjadi penerus bangsa menuju Indonesia yang lebih maju. [fiq/aje]
No comments: