Tewasnya Janda Ponorogo: Anak Sulung Menghilang, Baru 3 Bulan Serumah, Setelah 15 Tahun Merantau ke Bali
Ponorogo (beritajatim.com) — Kematian tragis Nuraini (55), janda asal Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, terus menyisakan tanda tanya.
Perempuan yang dikenal tertutup dan bekerja sebagai penjaga toko itu, ditemukan tewas di rumahnya dengan kondisi mencurigakan. Di balik peristiwa ini, publik kini mengarah pada anak sulung korban berinisial A, yang menghilang sejak kejadian.
Ironisnya, A baru tiga bulan terakhir tinggal serumah dengan sang ibu, setelah 15 tahun merantau ke Bali. Sebelum kepulangan itu, Nuraini diketahui menjalani hidup seorang diri dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Keponakan korban, Irfan Rifai, menggambarkan Nuraini sebagai sosok pendiam yang nyaris tak pernah berinteraksi dengan tetangga. Sepulang kerja, korban disebut selalu langsung masuk ke rumah tanpa banyak berbaur.
Namun yang paling mengundang tanda tanya adalah ketidakhadiran A. Anak sulung korban itu tidak terlihat saat jasad ibunya ditemukan, bahkan tidak mendampingi proses evakuasi ke RSUD dr. Harjono Ponorogo.
“Tiga bulan ini memang tinggal bareng anak pertamanya. Sebelumnya anak pertama itu di Bali selama 15 tahun, baru pulang ini. Tapi saat kejadian, dia tidak kelihatan,” ungkap Irfan.
Hingga kini, keberadaan A masih belum diketahui. Pihak keluarga pun memilih menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada aparat kepolisian.
“Kami menyerahkan sepenuhnya ke polisi,” tambah Irfan.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Ponorogo AKP Imam Mujali mengungkapkan bahwa hasil penyelidikan sementara, mengarah pada A sebagai terduga pelaku.
“Berdasarkan hasil penyelidikan, terduga pelaku adalah anak korban, inisial A,” tegas AKP Imam Mujali.
Polisi juga menelusuri jejak terakhir A yang diketahui berada di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari keterangan warga setempat, seorang pria yang diduga A sempat menitipkan sepeda motor dan sebuah tas, dengan alasan akan melakukan perjalanan jauh.
Dari wilayah Gunungkidul, penyidik turut mengamankan barang bukti berupa pisau dan kapak, yang ditemukan di dalam tas dan diduga berkaitan dengan peristiwa pembunuhan tersebut.
“Kami mendapatkan barang bukti berupa pisau dan kapak dari wilayah Gunungkidul. Barang-barang itu ditemukan di dalam tas,” jelas AKP Imam.
Kini, hilangnya A, yang baru saja kembali dari perantauan panjang, menjadi potongan penting dalam mengungkap motif dan kronologi kematian Nuraini.
Kasus ini pun terus didalami, sementara publik menanti jawaban atas misteri yang menyelimuti rumah sunyi di Desa Golan, tempat korban ditemukan tewas bersimbah darah di dalam rumahnya. (end/ted)
No comments: